teori pendekatan sosial dalam bidang kesehatan
TEORI SOSIAL DALAM BIDANG KESEHATAN

Kelompok 3
A3a & A3b
PROGRAM STUDI STRATA 1 ILMU
KEPERAWATAN
STIKES NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas hikmah
dan akal budi-Nya penulis dapat menyelesaikan sekaligus menyajikan makalah ini.
Sebagaimana pengetahuan kami yang
masih begitu terbatas, maka sudah dengan sendirinya makalah yang ditulis ini
masih jauh dari pada kesempurnaan. Namun dibalik itu semua, kami mempunyai
keyakinan, bahwa bagaimanapun kecilnya, kiranya makalah ini akan memberikan
nilai tambah bagi pembaca.
Kepada semua pihak yang telah memberi
dukungannya baik secara langsung maupun tidak langsung dan teman – teman yang
mendukung dan memberikan saran dalam penulisan makalah ini, kami sampaikan
limpah terima kasih.
Selanjutnya, segala tegur sapa yang bersifat
korektif akan kami terima dengan senang hati.
Makassar,
Mei 2013
penulis
Daftar isi
Cover..........................................................................................................................
KATA
PENGANTAR...............................................................................................
Daftar isi.....................................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar
belakang......................................................................................................
B. Rumusan masalah................................................................................................
C. Tujuan
.................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Gaya hidup..........................................................................................................
B. Pola hidup sehat..................................................................................................
C. Gaya hidup menentukan kesehatan.....................................................................
D. Teori sosial dalam kesehatan..............................................................................
E. Pendekatan untuk mengubah perilaku.................................................................
F. Faktor psikososial yang mempengaruhi
perilaku kesehatan................................
G. Program intervensi yang paling
efektif................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..........................................................................................................
B. Saran....................................................................................................................
Daftar pustaka............................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Dalam kehidupan yang sifatnya dinamis ini, manusia sebagai
makhluk sosial tidak akan pernah bisa lepas dari individu-individu yang lain.
Sehingga mereka akan selalu bersentuhan dengan indvidu lainnya, dengan kelompok
individu, bahkan antara kelompok individu dengan kelompok individu yang lain,
atau dalam dunia sosial lebih dikenal dengan istilah Interaksi Sosial. Interaksi sosial yang terbangun melahirkan
gejala-gejala sosial (fakta sosial) dalam kehidupan masyarakat. Ilmu sosial
hadir dengan tujuan untuk membangun pemahaman atas setiap fakta sosial yang
terjadi ditengah masyarakat. Pemahaman tersebut dapat ditempuh melalui
pengamatan sosial. Pengamatan sosial tidak hanya dilakukan dengan satu cara dan
dari satu sudut pandang sosial saja, sehingga hal ini kemudian melahirkan
banyak metodologi yang dapat dipergunakan dalam melakukan pengamatan sosial.
Diantara metodologi yang ada salah satunya adalah Etnometodologi.
Pengamatan atas fakta sosial yang dilakukan oleh ahli ilmu
sosial dewasa ini masih terklasifikasi dalam dua wilayah objek kajian, yakni
pengamatan yang dititikberatkan pada persoalan-persoalan makro, dan pengamatan
yang tertuju pada persoalan-persoalan mikro. Emile Durkheim misalnya, adalah
salah satu tokoh sosiologi yang menempatkan pengamatannya pada persoalan
makrososiologi (struktur sosial dan pranata sosial). Durkheim berangkat dari
pemahaman bahwa fakta sosial berada diluar dan bersifat memaksa individu untuk
mengikuti struktur dan peranata sosial yang ada. Kemudian adalah Max Weber
salah satu tokoh termasyhur dalam dunia sosiologi yang meletakkan pengamatan
pada wilayah mikrososiologi seperti Tindakan Sosial. Weber berangkat dari
pemahaman bahwa individulah yang membangun struktur sosial, sehingga mengamati
persoalan sosial tidak bisa langsung tertuju pada struktur sosial
(makrososiologi) yang ada namun harus diawali dengan mengamati tindakan sosial
individu (mikrososiologi).
Berbeda dengan kedua tokoh ahli sosiologi diatas, Harold
Garfinkel sebagai pencetus teori Etnometodologi melihat fakta sosial sebagai
sesuatu yang fundamental dalam kehidupan sosial. Sehingga dalam penggunaannya
Etnometodologi tidak terpaku pada hal-hal yang sifatnya makro maupun mikro,
namun memusatkan pengamatannya pada interaksi sosial yang dilakukan manusia
dalam kesehariannya, salah satunya melalui pengamatan Etnometodologi atas
percakapan sehari-sehari yang dilakukan manusia.
Etnometodologi meletakkan studi mengenai kegiatan manusia
sehari-hari atas dasar common sense.
Realitas common sense dan eksisitensi sehari-hari manusia merupakan kepentingan praktis dalam kehidupan
sosial. kepentingan praktis kemudian dilawankan dengan kepentingan ilmiah (teoritis). Teori ilmiah membangun pemahaman
atas realitas sosial melalui penelitian yang sisitematis dan teoritis. Bagi
Alferd Schutzs (tokoh sosial yang mempengaruhi Garfinkel dalam melahirkan teori
Etnometodologi) manusia bergerak bukan berdasarkan teori ilmiah melainkan atas
dasar common sense atau kepentingan praktis. Pada wilayah inilah (kepentingan
praktis) etnometodologi hadir sebagai alat pengamatan pergerakan keseharian
manusia untuk membangun pemahaman utuh atas fakta sosial yang tengah tertebar
di masyarakat.
Diakui secara luas bahwa ketidakseimbangan dalam masyarakat
sebagai masalah utama perselisihan sosial yang mengenai sebuah aspek kehidupan
sosial. Hal ini tidak mengurangi masalah dalam hal kesehatan negara dan
bentuk-bentuk cara penggunaan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu penulis akan
membahas tentang bagaimana pendekatan teori sosial dalam dunia kesehatan
khususnya.
B. Rumusan
masalah
1. Gaya hidup dan kesehatan
2. Teori sosial dalam kesehatan
3. Pendekatan untuk mengubah perilaku
C. Tujuan
1.
Menjelaskan
Gaya hidup dan kesehatan
2.
Menjelaskan
Teori sosial dalam kesehatan
3.
Teori
Perilaku Individu
4.
Teori
Sosial Kognitif
5.
Teori
perilaku interpersonal
6.
Teori
motivasi untuk proteksi
7.
Menjelaskan
pendekatan untuk mengubah perilaku
BAB II
PEMBAHASAN
A. Gaya
Hidup
Gaya hidup menurut Kotler
(2002, p. 192) adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan
dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan
diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup
menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia.
Menurut Assael (1984, p. 252), Gaya hidup adalah “A mode of living
that is identified by how people spend their time (activities), what they
consider important in their environment (interest), and what they think of
themselves and the world around them (opinions)”.
Gaya hidup adalah perilaku seseorang
yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan
dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya. Gaya hidup merupakan
frame of reference yang dipakai sesorang dalam bertingkah laku dan
konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu.
B. Kesehatan
Sehat adalah suatu keadaan yang
tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek
kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Menurut
WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan
yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak
hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Definisi WHO tentang sehat
mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep
sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):
- Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
- Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal
- Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
UU No.23, 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup
produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka
kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari
unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa
merupakan bagian integral kesehatan.
pengertian yang
paling luas, sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis,
Intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (Iingkungan fisik,
social dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya
C. Pola Hidup Kesehatan
Pengertian
pola hidup sehat adalah suatu gaya hidup dengan memperhatikan faktor-faktor
tertentu yang memengaruhi kesehatan, antara lain makanan dan olahraga. Selain itu, gaya hidup seseorang juga
mempengaruhi tingkat kesehatannya. Misalnya, seorang perokok atau sering
minum-minuman keras, tentu saja itu bukan pola hidup sehat.
D. Gaya Hidup Menentukan Kesehatan
a. Merokok:
ada 4000 macam racun yang terkandung
dalam sebatang rokok. Racun-racun yang utama adalah zat kimia, nikotin, tar,
timah hitam, dan gas karbonmonoksida.
b. Minum-minuman
keras: Menurut
WHO, mengonsumsi minuman keras dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Dampak
negatif minuman beralkohol bahkan mengalahkan dampak
negatif narkoba (opium, kokain, dan lain-lain). Dalam
majalah Medicine Internasional, disebutkan segudang efek buruk
mengonsumsi minuman keras, berupa gangguan tenggorokan dari mulai radang,
pendarahan, hingga yang terburuk adalah kanker tenggorokan.Selain itu, minuman
beralkohol juga mengakibatkan radang pankreas, wasir, liver, gangguan
pencernaan, gangguan pernafasan, serta berbagai penyakit lain yang berujung
pada kematian.
c. Terlalu
banyak mengkonsumsi obat kimia: Sesungguhnya, obat bukanlah solusi untuk sehat. Obat
kimia dalam resep dokter maupun obat-obatan yang dijual bebas di warung
sejatinya hanya meredakan gejala, namun tidak mengobati penyakit. Jika
dikonsumsi terus-menerus, obat-obatan kimia dalam jangka panjang akan
menimbulkan sejumlah efek samping seperti gangguan hati, ginjal, dan
jantung. Komplikasi berbagai penyakit ini dapat berujung pada kematian.
E. Teori Sosial dalam Kesehatan
a. Teori Perilaku Individu
Perilaku baru
terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yang disebut
rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu. Perilaku
individu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat adanya
rangsangan (stimulus) baik dari dalam dirinya sendiri (internal) maupun dari
luar individu (eksternal). Pada hakekatnya perilaku individu mencakup perilaku yang tampak (covert
behaviour) dan perilaku yang tidak tampak (inert behavior atau covert
behavior). Perilaku yang tampak adalah perilaku yang dapat diketahui oleh
orang lain tanpa menggunakan alat bantu, sedangkan perilaku yang tidak tampak
adalah perilaku yang hanya dapat dimengerti dengan menggunakan alat atau metode
tertentu, misalnya berpikir, sedih, berkhayal, bermimpi, takut.
Tiap individu adalah unik, dimana mengandung arti bahwa
manusia yang satu berbeda dengan manusia yang lain dan tidak ada dua manusia
yang sama persis di muka bumi ini, walaupun ia dilahirkan kembar. Manusia
mempunyai ciri-ciri, sifat, watak, tabiat, kepribadian, dan motivasi tersendiri
yang membedakannya dari manusia lainnya. Perbedaan pengalaman yang dialami
individu pada masa silam dan cita-citanya kelak dikemudian hari, menentukan perilaku individu di masa kini yang
berbeda-beda pula. Perilaku manusia terbentuk karena adanya kebutuhan. Menurut
Maslow, manusia memiliki 5 kebutuhan dasar, yaitu: kebutuhan fisiologis/
biologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan
harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.
(a) Faktor-faktor mempengaruhi Perilaku
Menurut Green (2000), perilaku
dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: faktor predisposisi ( predisposing factor), faktor
pemungkin (enabling factor), dan faktor penguat (reinforcing factor)
(Notoatmodjo, 2003; Green, 2000)
Pengetahuan
adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensori khususnya mata dan
telinga terhadap obyek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat
penting untuk terbetuknya perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku yang
didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng
Sikap
adalah respon tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek,
baik yang bersifat intern maupun ekstern sehingga manifestasinya tidak
dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari
perilaku yang tertutup tersebut. Sikap secara realitas menunjukkan adanya
kesesuaian respon terhadap stimulus
tertentu ( Sunaryo, 2004; Purwanto, 1999 )
Tingkatan
respon adalah menerima (receiving), merespon (responding), enghargai (valuing),
dan bertanggung jawab (responsible) (Sunaryo, 2004; Purwanto, 1999 )
Nilai-nilai atau norma yang berlaku
akan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai atau norma yang telah
melekat pada diri seseorang ( Green, 2000 )
Kepercayaan:
Seseorang yang mempunyai atau meyakini suatu kepercayaan tertentu aka
mempengaruhi perilakunya dalam menghadapi suatu penyakit yang akan berpengaruh terhadap kesehatannya
(b) Persepsi
Persepsi
merupakan proses yang menyatu dalam diri individu terhadap stimulus yang
diterimanya. Persepsi merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian
terhadap rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan
sesuatu yang berarti dan merupakan respon yang menyeluruh dalam diri individu.
Oleh karena itu dalam penginderaan orang akan mengaitkan dengan stimulus,
sedangkan dalam persepsi orang akan mengaitkan dengan obyek. Persepsi pada
individu akan menyadari tentang keadaan sekitarnya dan juga keadaan dirinya.
Orang yang mempunyai persepsi yang baik tentang sesuatu cenderung akan
berperilaku sesuai dengan persepsi yang dimilikinya
Motivasi mempunyai arti dorongan,
berasal dari bahasa latin “movere”,
yang berarti mendorong atau menggerakkan. Motivasi inilah yang mendorong
seseorang untuk berperilaku, beraktifitas dalam pencapaian
tujuan. Motivasi itu bersifat alami dan kebutuhan, motivasi itu timbul karena adanya kebutuhan
seseorang yang harus segera dipenuhi untuk segera mencapai tujuan. Motivasi
sebagai motor penggerak, maka bahan bakarnya adalah kebutuhan
b. Teori Sosial Kognitif
Asumsi
dasar dari Social cognitive theory adalah perilaku terjadi karena proses
kognitif dan interaksinya dengan orang lain serta lingkungan disekitarnya. Menurut
Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek:
·
Kematangan,
sebagai hasil perkembangan susunan saraf
·
Pengalaman,
yaitu berhubungan timbal balik antara organisme dengan dunianya
·
Interaksi
sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan
lingkungan sosial
·
Ekulibrasi,
yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia
selalu mamu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap
lingkungannya
System yang mengatur dari dalam
mempunyai dua faktor, yaitu skema dan adaptasi, Skema berhubungan dengan pola
tingkah laku yang teratur yang diperhatikan oleh organisme yang merupakan
akumulasi dari tingkah laku yang sederhana hingga yang kompleks sedangkan Adaptasi
adalah fungsi penyesuaian terhadap lingkungan yang terdiri atas proses
asimilasi dan akomodasi . Ada beberapa konsep yang perlu dimengerti agar lebih
mudah memahami teori kognitif:
·
Intelegensi:
suatu bentuk ekuilibriun kearah mana semua struktur yang menghasilkan persepsi,
kebiasaan dan mekanisme sensiomotor diarahkan
·
Organisasi
adalah tendensi yang umum untuk semua bentuk kehidupan guna nmengintegrasikan
struktur, baik yang psikis ataupun fisiologis dalam suatu sistem yang lebih
tinggi
·
Skema,
suatu struktur mental seseorang dimana ia secara intelektual beradaptasi dengan
lingkungan sekitarnya
·
Asimilasi,
proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau
pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya
c. Teori
Perilaku Interpersonal
Triandis
(1980) mengembangkan teori perilaku interpersonal. Teori ini mengusulkan bahwa
minat perilaku ditentukan oleh perasaan yang dimiliki manusia terhadap
perilaku, apa yang mereka pikirkan tentang yang seharusnya dilakukan,dan
konsekuensi ekpektasian dari perilaku kemudian akan dipengaruhi oleh kebiasaan dan
juga kondisi pemfasilitasi.
J.W dalam
memahami konsep keperawatan, terkenal dengan teori pengetahuan manusia dan
merawat manusia. Tolak ukur pandangan JW ini didasari pada unsur teori
kemanusiaan. Teori JW ini memahami bahwa manusia memiliki Empat cabang
kebutuhan yang saling berhubungan, diantaranya :
·
Kebutuhan
Dasar Biofisikal (Kebutuhan untuk hidup) yang meliputi kebutuhan Makan dan
Cairan, Kebutuhan Eliminasi, dan Kebutuhan Ventilasi
·
Kebutuhan
Dasar Psikofisikal (Kebutuhan Funsional) yang meliputi Kebutuhan Aktifitas dan
Istirahat, serta Kebutuhan Sexualitas.
·
Kebutuhan
dasar Psikososial (Kebutuhan untuk Integrasi) yang meliputi Kebutuhan untuk
Berprestasi dan Berorganisas
·
Kebutuhan
dasar Intrapersonal dan Interpersonal (Kebutuhan untuk Pengembangan) yaitu
Kebutuhan Aktualisasi Diri.
Berdasarkan empat kebutuhan tersebut,
JW memahami bahwa manusia adalah mahluk yang sempurna, yang memiliki berbagai
macam ragam perbedaan. Sehingga dalam upaya mencapai kesehatan, manusia
seharusnya dalam keadaan sejahtera, baik fisik, mental dan spiritual. Karena
sejahtera merupakan keharmonisan antara pikiran, badan dan jiwa. Sehingga untuk
mencapai keadaan tersebut, keperawatan harus berperan aktif dalam upaya
meningkatkan status kesehatan, mencegah terjadinya penyakit, mengobati berbagai
penyakit dan upaya penyembuhannya, yang fokusnya terdapat pada peningkatan kesehatan
dan pencegahan penyakit.
d. Teori
Motivasi untuk Proteksi
Teori
Motivasi Perlindungan mengusulkan bahwa kita melindungi diri kita sendiri
didasarkan pada empat faktor: keseriusan dengan peristiwa yang mengancam,
kemungkinan dirasakan kejadian, atau kerentanan, efektivitas perilaku
pencegahan yang disarankan, dan yang dirasakan self efficacy.
Perlindungan
motivasi berasal dari kedua penilaian ancaman dan penilaian
coping. Penilaian ancaman menilai keparahan situasi dan meneliti bagaimana
seriusnya situasi ini. Penilaian mengatasi adalah bagaimana seseorang merespons
situasi. Penilaian mengatasi terdiri dari kedua keberhasilan
dan efektivitas diri. Keberhasilan adalah harapan individu yang
melaksanakan rekomendasi dapat menghapus ancaman tersebut. Self-efficacy
adalah kepercayaan dalam kemampuan seseorang untuk menjalankan program yang direkomendasikan
tindakan sukses seperti Pencegahan primer yaitu mengambil tindakan untuk
memerangi risiko mengembangkan masalah kesehatan. (Misalnya, mengendalikan
berat badan untuk mencegah tekanan darah tinggi) dan pencegahan sekunder
yaitu mengambil langkah untuk mencegah kondisi menjadi lebih
buruk. (Misalnya, mengingat untuk mengambil obat setiap hari untuk
mengontrol tekanan darah)
(a)
Mengatasi-Penilaian Proses
Penilaian
mengatasi terdiri dari efektivitas tanggapan, self-efficacy, dan biaya
respon. Kemanjuran Respon adalah efektivitas dari perilaku yang dianjurkan
dalam menghilangkan atau mencegah bahaya yang mungkin. Self-efficacy
adalah keyakinan bahwa salah satu berhasil dapat menetapkan perilaku yang
direkomendasikan. Biaya respon adalah biaya yang berkaitan dengan perilaku
yang direkomendasikan. Jumlah mengatasi kemampuan yang satu pengalaman
adalah kombinasi khasiat respon dan efektivitas diri, minus biaya
respon. Proses penilaian koping berfokus pada respon adaptif dan kemampuan
seseorang untuk mengatasi dan menangkal ancaman tersebut. Penilaian
mengatasi adalah jumlah dari penilaian dari efektivitas tanggapan dan
self-efficacy, dikurangi fisik atau psikologis "biaya" mengadopsi
respon pencegahan yang direkomendasikan. Mengatasi Penilaian melibatkan
penilaian individu terhadap efektivitas respon perilaku yang direkomendasikan
(yaitu dianggap efektivitas tabir surya dalam mencegah penuaan dini) serta satu
yang dirasakan self-efficacy dalam melaksanakan tindakan yang
direkomendasikan. (Yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat menggunakan tabir
surya secara konsisten).
Ancaman
dan variabel penilaian mengatasi menggabungkan dengan cara yang cukup mudah,
meskipun penekanan relatif dapat bervariasi dari satu topik ke topic yang lain dan dengan populasi target. Dalam bukunya,
"Stres, Penilaian, dan Coping," Richard Lazarus menyatakan
bahwa, "menyarankan studi untuk mengatasi bahwa gaya yang berbeda untuk
mengatasi terkait dengan hasil kesehatan tertentu; kontrol kemarahan, misalnya,
telah terlibat dalam hipertensi Tiga rute. Mengatasi dapat mempengaruhi
kesehatan meliputi frekuensi, intensitas, durasi, dan pola reaksi stres
neurokimia; menggunakan zat berbahaya atau melakukan kegiatan yang menempatkan
orang pada risiko, dan menghambat kesehatan adaptif / penyakit yang berhubungan
dengan perilaku”
(b) Khasiat
Respon
Kemanjuran
Respon menyangkut keyakinan yang mengadopsi respons perilaku tertentu akan
efektif dalam mengurangi ancaman penyakit', dan self-efficacy adalah keyakinan
bahwa salah satu berhasil dapat melakukan respon coping. Sejalan dengan
cara tradisional untuk mengukur konsekuensi dari perilaku, keberhasilan respon
yang dioperasionalkan dengan menghubungkan konsekuensi dengan perilaku yang
dianjurkan serta apakah subjek dianggap sebagai konsekuensi kemungkinan hasil
dari perilaku yang dianjurkan
Kotter
(1996) berpendapat bahwa proses perubahan dilakukan melalui tahapan berikut:
·
Menentukan
rasa urgensi, yaitu mengidentifikasi dan mempelajari situasi internal dan
eksternal yang dihadapi
·
Menciptakan
koalisi pengerahan, membentuk kelompok kerja sebagai tim.
·
Membangun
visi dan strategi, yaitu menciptakan visi untuk mengarahkan usaha perubahan dan
mengembangkan strategi untuk mencapai visi.
·
Mengkomunikasikan
visi yang telah berubah. Agar dipahami dan mendapatkan dukungan
·
Pemberdayaan
aksi secara luas, yaitu struktur, sistem dan mekanisme perlu diubah,
disesuaikan dengan visi
·
Membangkitkan
kemenangan jangka pendek, yaitu perlu segera memberikan bukti keberhasilan dan
kemenangan.
·
Mengkonsolidasikan
keuntungan dan menghasilkan perubahan lebih lanjut, dengan menggunakan
peningkatan-peningkatan kredibilitas-kredibilitas merubah semua sistem,
struktur, dan kebijakan yang tidak sesuai dengan perubahan
·
Menancapkan
pendekatan baru ke dalam budaya, dengan menciptakan kinerja lebih baik melalui
pelayanan dan orientasi produktifitas
F. Pendekatan untuk Mengubah Perilaku
Dua cara pendekatan yang secara
tradisional dilakukan oleh pemerintah adalah
(a) pendidikan kesehatan
Pendidikan
kesehatan meliputi pemberian informasi secara sederhana tentang risiko
kesehatan, pemberian label pada makanan dan rokok
(b) Peraturan perundangan walaupun
kurang populer, apalagi dilakukan dengan memberikan larangan yang ternyata
efektif menurunkan kejadian cirrhosis liver
G. Faktor Psikososial mempengaruhi
Perilaku Kesehatan
Selain perilaku individu berpengaruh terhadap status kesehatan seseorang,
banyak faktor lain yg berpengaruh, seperti lingkungan sosial, faktor demografi
(ras, gender, status perkawinan), dan yg paling penting sbg prediktor adalah
status sosial ekonomi (income, pendidikan, dan status pekerjaan)
Teori perilaku kesehatan meliputi the health belief model
dan theory of self efficacy atau locus of control,
fokus pada sikap dan kepercayaan individual sebagai penentu perilaku mereka. Perspektif
lebih luas adalah the ecological model of health behavior, yg
memperhitungkan semua tingkatan pengaruh terhadap sikap dan kepercayaan
meliputi hubungan inter-personal, institutional, dan public policy seperti
Peraturan dan Undang-Undang
H. Program Intervensi Paling Efektif
Program intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif adalah
mempengaruhi kepercayaan masyarakat pada berbagai tingkatan dengan sasaran
menciptakan lingkungan sosial yang nyaman untuk berperilaku sehat. The San
Francisco AIDS prevention program adalah contoh program yg berhasil menurunkan
secara signifikan penularan penyakit HIV, namun memang diperlukan pemeliharaan
dari sukses program ini untuk mencegah kambuhnya lagi perilaku yang tidak sehat.
Peningkatan public health advocacy disadari
menjadi cara yg paling paling efektif meningkatkan perilaku sehat dengan cara
melibatkan seluruh masyarakat dalam meningkatkan lingkungan sosial dan fisik yg
kondusif untuk berperilaku sehat
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di
era moderenisasi Teori pendekatan social dalam masyarakat bermanfaat sekali
untuk di pelajari untuk bersosialisasi dengan masyarakat luas, dan dapat
bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari . Terlebih lagi sebagai seorang perawat
yang professional kita di tuntut agar bias melakukan pendekatan bersosialisai
dengan individu itu sendiri , dan masyarakat yang luas agar dapat mewujudkan
pola hidup sehat.
B. Saran
Semoga
wacana yang kami sajikan ini dapat diimplementasikan sebagaimana mestinya
mengingat kita adalah calon-calon tenaga kesehatan
Daftar pustaka
Komentar
Posting Komentar