KEPEMIMPINAN POPULISTIS
KEPEMIMPINAN
POPULISTIS

OLEH
KELOMPOK VI (ENAM)
A3 2012
PROGRAM
STUDI STRATA 1 ILMU KEPERAWATAN
STIKES
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
“kepemimpinan populistis”
Penulis sadar akan kata pepatah “Tiada
Gading Yang Tak Retak” demikian juga dengan makalah ini masih jauh dari
kata sempurna, namun sekiranya makalah ini dapat memberi nilai tambah yang
positif bagi pembaca semua.
Selanjutnya segala kritik dan saran yang
bersifat membangun akan penulis terima dengan senang hati.
Makassar,
02 Januari 2015
penulis
DAFTAR ISI
Halaman judul.....................................................................................................................1
Kata pengantar.....................................................................................................................2
Daftar isi...............................................................................................................................3
BAB 1 : PENDAHULUAN
A.
Latar belakang.........................................................................................................4
B.
Rumusan masalah....................................................................................................4
C.
Tujuan penulisan.....................................................................................................4
BAB II : PEMBAHASAN
1.
Definisi kepemimpinan...........................................................................................5
2.
Pengertian pemimpin populistis..............................................................................5
3.
Kelebihan pemimpin populistis..............................................................................6
4.
Kekurangan pemimpin populistis...........................................................................6
5.
Teori pemimpin ideal..............................................................................................6
BAB III : PENUTUP
A.
Kesimpulan............................................................................................................13
B.
Saran......................................................................................................................13
Daftar
Pustaka....................................................................................................................14
LAMPIRAN NAMA ANGGOTA
KELOMPOK....................................................15
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan
lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah
& memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah
manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik.
Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok &
lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif
pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil
keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
B.
Rumusan
Masalah
Mengingat situasi dan kondisi yang di hadapi seorang pemimpin sangat
berbeda satu dengan lainnya, sehingga muncul berbagai tipe dan gaya
kepemimpinan untuk situasi dan kondisi yang tepat. Hal inilah yang menjadi dasar
rumusan masalah dalam makalah ini yaitu gaya dan tipe kepemimpinan
khususnya tipe kepemimpinan populistis
C. Tujuan
penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.
Mengetahui definisi kepemimpinan
2.
Mengetahui apa yang dimaksud dengan pemimpin
populistis
3.
Mengetahui kekurangan pemimpin populistis
4.
Mengetahui kelebihan pemimpin populistis
5.
Mengetahui bagaimana pemimpin yang ideal
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Kepemimpinan
Kepemimpinan
adalah jenis khusus hubungan kekuasaan yang ditentukan oleh anggapan para
anggota kelompok bahwa seorang dari anggota kelompok itu memiliki kekuasaan
untuk menentukan pola perilaku terkait dengan aktivitasnya sebagai anggota
kelompok.
Pemimpin
pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi
perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk
mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang
harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara
arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat
dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan
demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara
pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota
dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya
dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat
mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin
suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan,
yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu, bahwa
pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya,
kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin
dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
2.
Pengertian
Tipe Populistis
Menurut Profesor Peter Worsley, kepemimpinan populistis adalah kepemimpinan yang
dapat membangunkan solidaritas rakyat. Misalnya Soekarno dengan Marhaenismenya
yang menekankan masalah kesatuan nasional, nasionalisme, sikap hati-hati terhadap kolonialisme dan penindasan oleh kekuasaan asing.
Kepemimpinan
populistik berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak
mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan
jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
3.
Kelebihan
pemimpin populistis
a. Pemimpin mudah dapat membangkitkan rasa nasionalisme dari
masyarakat yang dipimpin, karena nilai-nilai tradisional masyarakat dirasa
mendapat penghargaan atau perhatian.
4.
Kekurangan
pemimpin populistis
a. Para
pemimpin negara-negara lain tidak memberikan simpati
b. Kemajuan umum
negara sulit terwujud krn tidak ada bantuan negara lain
c. Masyarakat
menjadi tertinggal dan ditinggalkan oleh negara-negara maju.
5.
Teori
pemimpin yang ideal
Pemimpin
adalah pribadi yang memilki keterampilan teknis, khususnya dalam suatu bidang
tertentu, sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan
aktivitas demi tercapainya satu atau beberapa tujuan organisasi. Kita mengenal
beberapa macam teori tentang kepemimpinan, diantaranya dapat disebutkan seperti
dibawah ini.
a.
Teori Pembawaan Kelahiran
Teori ini biasanya dianut dan hidup
di kalangan kaum bangsawan. Seperti contohnya di Yogyakarta, yang dapat
memangku jabatan sebagai Sultan atau Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta hanyalah
dari keturunan Sultan Yogya saja. Di antara golongan ynag mempunyai “Vested
interest” mengatakan, bahwa seorang ayah dapat menjadi pemimpin, maka anaknya
juga menjadi pemimpin. Bila orang tua dahulu tidak menjadi pemimpin, maka orang
tersebut dipandang tidak cakap menjadi pemimpin. Dalam dunia demokrasi seperti sekarang
ini kebiasaan seperti tersebut tidak dapat diterima sepenuhnya.
b.
Teori Sosial
Teori ini menyatakan, bahwa pada hakikatnya semua
memilki kedudukan sederajat. Di antara mereka berhak menjadi pemimpin. Setiap
orang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin, selanjutnya semua tergantung pada
kesempatan yang ada. Jadi setiap orang dapat dididik, serta dipupuk untuk
menjadi pemimpin. Pada hakikatnya setiap orang dapat menjadi pemimpin. Kalau
tidak menjadi kepala negara, orang dapat menjadi kepala biro, kepala bagian,
kepala seksi, dan bahkan sekurang-kurangnya menjadi kepala keluarga. Kepala
keluarga untuk di Indonesia merupakan basis pemimpin-pemimpin negara. Keluarga
membentuk masyarakat, dan masyarakat dapat membentuk suatu negara.
Banyak aspek dalam kehidupan ini
dapat mengantarkan seseorang berhasil menjadi pemimpin. Diantara aspek-aspek
tersebut dapat disebutkan seperti di bawah ini.
Ø Aspek
Internal
Aspek ini identik dengan ketata lembagaan, artinya
seorang pemimpin harus lebih banyak memberikan perhatian tentang bagaiman
keadaan organisasi, geraknya, keadaanya, perkembanganya, tuntunannya serta
tujuan organisasi tersebut. Dalam hal ini pemimpin harus memahami hal-hal
sebagai berikut :
·
Pandangan pemimpin terhadap organisasi harus
menyeluruh.
·
Seorang pemimpin harus cepat, tepat dan tegas dalam
mengambil keputusan.
·
Harus pandai mendelegasikan wewenang kepada bawahan.
·
Harus cakap/dapat memperoleh dukungan para bawahan.
Ø Aspek
eksternal/ Aspek Politik
Seorang pemimpin harus melihat perkembangan situasi masyarakat
yang ada di luar lingkungan organisasinya. Apakah masyarakat merasa senang,
tenang atau tidak, merasa dirugikan atau tidak. Semuanya itu harus menjadi
perhatian para pemimpin. Pemimpi yang ideal dan yang diharapkan oleh masyarakat
adalah para pemimpin yang mampu dan mau mendahulukan tugas (kewajiban) daripada
wewenang (hak) sebagai pemimpin. Seorang pemimpin agama seperti ‘Maha Rsi
Wyasa’ dipandang memilki sifat-sifat unggul yang dibawa sejak lahir.
a)
Pemimpin dan Nitisastra
Sad Upaya
Guna
Lontar Raja Pati Gondala menjelaskan bahwa seorang
pemimpin hendaknya bersifat penuh sahabat. Hal ini dikenal dengan istilah “
Upaya Guna” . Ada 6 sifat bersahabat bagi seorang pemimpin yang disebut Sad
Upay Guna, yang terdiri dari berikut ini.
-
Siddhi, artinya kemampuan untuk mengadakan sahabat.
-
Wirgha, artinya kemampuan untuk memisahkan setiap
permasalahan atau persoalan serta dapat mempertahankan hubungan baik.
-
Wibawa, artinya memiliki kewibawaan.
-
Winarya, artinya cakap memimpin.
-
Gascarya, artinya kemampuan untuk menghadapi lawan
yang kuat.
-
Stanha, artinya menjaga hubungan baik.
Catur
Kotamaning Nrpati
Kitab Tata Nagara Majapahit, karya Prof. M. Yamin
dalam parwa III, menyebutkan ada “empat sifat utama” yang harus dimiliki oleh
seorang pemimpin (swamin, raja). Keempat sifat utama itu disebut dengan istilah
Catur Kotamaning Nrpati yang terdiri sebagai berikut.
-
Jnana Wisesa Sudha, artinya pemimpin atau swamin
hendaknya memiliki pengetahuan yang luhur dan suci. Maksudnya adalah seorang
pemimpin harus mengerti dan menghayati ajaran-ajaran agama.
-
Kaprahitaning Praja, artinya seorang pemimpin harus
mampu menunjukkan belas kasihan kepada masyarakat. Maksudnya adalah seseorang
harus dengan betul-betul menolong masyarakat yang menderita dengan perbuatan
nyata, baik bersifat jasmaniah (material) maupun yang bersifat moral (rohaniah)
yang ideal.
-
Kawiryan, artinya seorang pemimpin harus berwatak
pemberani atau pantang menyerah. Maksudnya adalah untuk menegakkan pengetahuan
yang suci dan menolong rakyat yang menderita harus dilakasanakan dengan penuh
keberanian, karena melakasanakan pengetahuan yang suci dan membela masyarakat
yang menderita akan penuh dengan tantangan dan resiko.
-
Wibawa, artinya seorang pemimpin atau swamin harus
berwibawa terhadapa bawahan dan masyarakatnya. Seorang pemimpin akan berwibawa
bila melakasanakan pengetahuan suci dan membela kepentingan masyarakat yang
menderita dan memilki keberanian.
Tri Upaya
Sandhi
Lontar Raja Pati Gundala menyebutkan bahwa seorang
pemimpin atau swamin harus memilki 3 upaya untuk menghubungkan dirinya dengan
masyarakat yang dipimpinnya, yang disebut dengan istilah Tri Upaya Sandhi yang
terdiri dari sebagai berikut :
-
Rupa, artinya seorang pemimpin harus mengamati wajah
dari masyarakatnya, karena roman muka dari masyarakatnya dapat memberikan
gambaran tentang keadaan batin yang sesungguhnya. Wajah akan menggambarkan
apakah rakyatnya itu sedang dalam keadaan susah atau bahagia.
-
Wangsa, artinya suku atau bangsa. Seorang pemimpin
harus mengetahui susunan masyarakat yang dipimpinnya. Dengan pengetahuan
tersebut seorang pemimpin dspat menentukan sistem pendekatan atau motivasi yang
harus dilakukan untuk masyarakat tersebut.
-
Guna, artinya seorang pemimpin harus mengetahui
tingkat pengertian dan pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki oleh
masyarakat yang dipimpinnya.
Asta Brata
Dalam kitab Ramayana, Sri Rama mengajarkan kepada
Gunawan Wibhisana tentang kepemimpinan yang disebut dengan nama Asta Brata.
Gunawan Wibhisana merupakan pemimpin yang dipersiapkan untuk memimpin kerajaan
Alengkapura. Asta Brata merupakan delapan landasan mental / moral bagi seorang
pemimpin. Ajaran ini juga termuat dalam kitab hukum hindu yang disebut dengan
Manawa Dharmasastra. Adapun bagian-bagian dari Asta Brata sebagai berikut:
-
Indra Brata, artinya seorang pemimpin hendaknya
mengikuti sifat-sifat Dewa Indra, yaitu sebagai dewa hujan. Hujan merupakan
sumber kemakmuran, karena tanpa hujan tumbuhan dan makhluk hidup lainya tidak
dapat hidup. Seorang pemimpin hendaknya seperti air yakni berasal dari bawah
terus menguap dan turu kembali menjadi hujan untuk menghidupkan segala isi alam
ini. Maksudnya adalah bahwa seorang pemimpin yang pada mulanya berasal dari
manusia biasa, setelah terangkat menjadi pemimpin hendaknya tidak lupa kepada
masyarakat yang dipimpinya.
-
Yama Brata, artinya pemimpin hendaknya mengikuti
sifat-sifat Dewa Yama yaitu menciptakan hukum, menegakkan hukum, dan memberikan
hukuman secara adil kepada setiap orang yang bersalah.
-
Surya Brata, artinya seorang pemimpin hendaknya
memberikan penerangan secara adil dan merata kepada masyarakatnya dan selalu
berhati-hati, seperti matahari yang sangat berhati-hati menyerap air. Surya
Brata juga dapat diartikan bahwa seorang pemimpin harus selalu berusaha
meningkatkan semangat perjuangan hidup seluruh masyarakatnya.
-
Candra Brata, artinya seorang pemimpin hendaknya
selalu dapat menunjukkan wajah yang tenang dan berseri-seri, sehingga
masyarakat yakin akan kebesaran jiwa dari pemimpinnya.
-
Bayu Brata, artinya seorang pemimpin hendakanya selalu
mengetahui dan memnyelidiki keadaan yang sebenarnya, terutama keadaan
masyarakat yang hidupnya paling menderita. Sifat pemimpin ini digambarkan
bagaikan Sang Hyang Bayu, yaitu Dewa Angin yang selalu berhembus dari tekanan
yang tinggi menuju pada tekanan yang lebih rendah.
-
Danadha (Kwera) Brata, artinya seorang pemimpin harus
bijaksana dalam mempergunakan uang atau dana, jangan menjadi pemboros yang
dapat merugikan negara dan masyarakat. Danadha Brata juga disebut Artha Brata :
Artinya seorang pemimpin harus mampu mempergunakan uang sehemat mungkin.
-
Baruna Brata, artinya seorang pemimpin hendaknya dapat
membersihkan segala bentuk penyakit masyarakat seperti: penggaguran, kenakalan
remaja, pencurian, dan pengacauan politik.
-
Agni Brata, artinya seorang pemimpin harus memiliki sifat
kesatria yang disertai dengan semangat yang tinggi, bagaikan api yang tidak
akan berhenti membakar sebelum apa yang dibakar itu habis.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung
pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya,
keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang
mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang
akan diterapkan.
Pada
dasarnya Tipe kepemimpinan ini bukan
suatu hal yang mutlak untuk diterapkan, karena pada dasarnya semua jenis gaya
kepemimpinan itu memiliki keunggulan masing-masing. Pada situasi atau keadaan
tertentu dibutuhkan gaya kepemimpinan yang otoriter, walaupun pada umumnya gaya
kepemimpinan yang demokratis lebih bermanfaat. Oleh karena itu dalam
aplikasinya, tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan
diterapkan dalam keluarga, organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan
kondisi yang menuntut diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk
mendapatkan manfaat.
Rahasia utama
kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya,
bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati
selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
B.
Saran
Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia.
Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk
memimpin diri sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
|
NH0112286
|
Tince
Yunarwati Anin
|
|
NH0112281
|
Syamsuriah
|
|
NH0112282
|
Syarifuddin
|
|
NH0112283
|
Takdir
|
|
NH0112284
|
Tanti
Relawati A.W
|
|
NH0112285
|
Tawaf
Ahlul Fajri
|
|
NH0112288
|
Titik
Nurba Putri
|
|
NH0112289
|
Tri
Intan Safitri
|
|
NH0112290
|
Tri
Retnowati
|
|
NH0112291
|
Tri
Muliani Saputri
|
|
NH0112292
|
Ulfiana
Agus
|
Komentar
Posting Komentar