LP & ASKEP TUMOR GINJAL
KONSEP DASAR MEDIS
A.
Pengertian
Neoplasma secara harafiah berarti “pertumbuhan baru”,
yang terdiri dari kata tumor/onkos dan logos/ilmu, yang diartikan sebagai massa
abnormal dari sel-sel yang mengalami proliferasi. Sel-sel neoplasma berasal
dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, selama mengalami perubahan
neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu (otonom: tumbuh dengan
kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang
sangat tidak tergantung pada pengawasan homeostasis sebagian besar sel tubuh
lain).
Tumor seringkali digunakan sinonim dengan neoplasma.
Tumor diartikan sebagai pembengkakan sederhana atau gumpalan. Istilah “Tumor
sejati” seringkali dipakai untuk membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya.
Sel tumor ialah sel tubuh yang
mengalami transmformasi dan tumbuh secara autosom lepas dari kendali
pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan
strukturnya (Sjamsuhidajat R, 2004). Tumor adalah proliferasi sel yang
abnormal tanpa terkendali dan bisa merupakan kelainan yang benigna atau
maligna. (Brooker C., 2001)
Tumor ginjal terbagi menjadi 2,
yaitu tumor ginjal padat jinak dan tumor ginjal ganas. Tumor ginjal padat jinak
ialah adenoma, onkositoma, leiomioma, lipoma, hemangioma, hamartoma. Sedangkan
Tumor ginjal ganas biasanya berupa tumor padat yang berasal dari urotelium yaitu
karsinoma , sel transional atau yang berasal dari sel epitel ginjal (Sjamsuhidajat
R, 2004).
B.
Etiologi
Kategori agen atau faktor-faktor tertentu telah
memberikan implikasi dalam proses karsinogenik, yaitu:
1.
Virus, Misalnya: Herpes
simplex virus (HPV) tipe 16,18 menyebabkan Ca servix uteri
2.
Agen fisik, Misalnya :
Pajanan sinar matahari, Radiasi, Iritasi kronis/inflamasi dan Penggunaan
tembakau Contoh : Ca epidermis, insidensinya meningkat pada individu yang
mempunyai resiko terkena pajanan sinar Ultraviolet yang berlebihan (misalnya:
gaya berpakaian, penggunaan tabir surya, pekerjaan, kebiasaan rekreasi,
variabel lingkungan seperti kelembaban dan ketinggian), Leukimia, mieloma
multipel, Ca paru, Ca mammae, osteosarkoma dan Ca tiroid dapat dipicu oleh
adanya terapi radiasi dalam pengobatan penyakit atau adanya pajanan terhadap
bahan radioaktif pada tempat-tempat senjata nuklir, Ca Labia dapat terjadi oleh
karena mutasi sel sekunder terhadap iritasi atau inflamasi kronik
3.
Agen kimia, Misalnya : Tembakau
merupakan karsinogen kimia paten yang menyebabkan sedikitnya 35% kematian
akibat kanker pada paru-paru, kepala, leher, esofagus, pankreas, serviks dan
kandung kemih. Tembakau bekerja sinergis dengan substansi lain seperti alkohol,
asbestos, uranium dan virus. Kondisi ini seringkali menyebabkan insidensi Ca
cavum oris meningkat. Agen kimia lain seperti zat warna amino aromatik dan
anillin, arsenik, jelaga, tar, asbestos, benzen, pinang dan kapur sirih,
kadmium, senyawa kromium, nikel, seng, debu kayu, senyawa berilium dan
polivinil klorida. Agen-agen kimia ini dalam dosis yang berlebihan membahayakan
tubuh karena akan merusak struktur DNA terutama pada bagian-bagian tubuh yang
jauh dari pajanan zat kimia seperti hepar, paru, dan ginjal karena organ-organ
ini berperan untuk melakukan detoksifikasi zat-zat kimiawi.
4.
Faktor genetik dan
keturunan: Kerusakan DNA pada sel yang pola kromosomnya abnormal dapat
membentuk sel-sel mutan. Pola kromosom yang abnormal dan kanker berhubungan
dengan kromosom ekstra, jumlah kromosom yang terlalu sedikit dan adanya
translokasi kromosom. Contoh: limfoma burkitt, leukimia mielogenus, meningioma,
retinoblastoma, tumor wilm.
5.
Faktor makanan: 40-60%
kejadian kanker berhubungan dengan lingkungan. Substansi makanan dapat proaktif
atau protektif, dan karsinogenik atau ko-karsinogenik. Resiko kanker meningkat
jika terdapat ingesti karsinogenik atau kokarsinogenik dalam jangka waktu yang
lama dan terus-menerus, juga dapat terjadi jika makanan yang dikonsumsi tidak
mengandung substansi proaktif, misalnya lemak, alkohol, asinan terutama daging,
nitrat/nitrit dan makanan yang berkalori tinggi. Contoh makanan yang mengurangi
resiko kanker adalah sayuran kruriferus (kol, brokoli, kembang kol dan toge),
makanan tinggi serat, karotenoid (wortel, tomat, bayam, aprikot, sayur hijau),
vitamin E, vitamin C, dan selenium.
6.
Agen humoral, Misalnya:
Endogenus atau pembentukan hormon tubuh sendiri dan Eksogenus atau adanya
pemberian hormon tambahn masuk kedalam tubuh. Gangguan keseimbangan ini
mempercepat pertumbuhan tumor, misalnya: Ca mammae, Ca prostat dan Ca uteri
berkaitan dengan kadar hormon endogen untuk pertumbuhannya. Ca hepatoseluler,
Ca vaginal dan Ca mammae berkaitan dengan penggunaan kontrasepsi hormonal dan
terapi penggantian estrogen jangka panjang
Sedangkan menurut Muttaqin dan Sari (2011) penyebab pasti masih
belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor lingkungan dan genetik yg menjadi
predisposisi terbentuknya karsinoma sel ginjal, meliputi hal-hal sebagai
berikut.
1.
Merokok
2.
Obesitas,
menjadi faktor resiko, terutama pada wanita, berat badan yang meningkat
memiliki hubungan liner dengan meningkat kan risiko
3.
Hipertensi, dikaitkan
dengan peningkatan insiden carcinoma sel ginjal
4.
Penyakit kritis
ginjal pada pasien yang menjalani dialisis ginjal jangka panjang. Hal
ini predisposisi untuk kanker sel ginjal
5.
Transplantasi
ginjal, predisposisi pada penerima transplantasi ginjal
6.
Penyakit sindrom
von Hippel-Lindau (VHL) merupakan penyakit bawaan terkait dengan karsinoma
ginjal
C.
Patofisiologi
Tumor ini berasal dari sel tubulus
ginjal yang dapat dimulai dari korteks maupun daerah medulla. Tumor dari daerah
korteks cenderung meluas kedaerah sekitar ginjal. Tumor ini mempunyai pseudo
kapsul yang terdiri dari jaringan parenkim yang tertekan serta jaringan fibrous
dan sel-sel inflamasi. Infiltrasi tumor ke daerah luar menyebabkan tonjolan
yang dapat digunakan sebagai tanda diagnostik pada pemeriksaan USG atau CT
scan. Ukuran sangat bervariasi mulai dari yang berukuran kecil sampai ukuran
8-9 cm. Secara makroskopik akan terlihat pewarnaan kekuningan atau orange oleh
karena mengandung banyak lemak. Permukaan tumor yang lebih kecil tampak homogen
sedang yang besar biasanya disertai kista sekunder di dalamnya dengan daerah
perdarahan dan daerah nekrosis serta kadang ditemukan kalsifikasi didaerah
perifer. (Afif, 2011)
Salah satu penyebab utama tumor
ginjal adalah merokok, karena didalam rokok terdapat zat karsinogen. Karsinogen
itu akan menyebabkan kerusakan pada DNA atau mutasi DNA yang ada pada inti sel.
Unit fungsional DNA disebut gen yang terkenal sebagai pembawa sifat keturunan.
Sebenarnya fungsi DNA ini adalah pengatur semua kehidupan sel. DNA yang
menentukan struktur dan fungsi sel juga pembelahannya. Kerusakan-kerusakan pada
DNA akan diperbaiki oleh yang namanya DNA repair mechanism, bila repair
ini gagal maka sel akan mengalami Apoptosis.
Apoptosis ini adalah kematian sel dengan cara bunuh diri akibat terpapar
asap rokok. (Erna. 2008)
Mutasi ini dapat mengaktivasi
gen-gen yang diberi nama oncogenes (dinamakan demikian karena aktivasi
berlebihan dari gen ini menyebabkan sel akan terus membelah dan menjadi kanker)
seperti gen RAS atau menginkativasi tumoursuppressor genes (gen
yang menekan timbulnya tumor jadi kerjanya berlawanan dengan oncogene). Banyak
bukti telah didapatkan bahwa carcinogen dapat secara langsung bereaksi dan
menyebabkan perubahan pada RAS. (Erna. 2008)
Karena oncogen seperti RAS
teraktivasi akhirnya sel-sel jadi membelah tak terkendali dan membentuk sel-sel
dengan struktur yang lebih primitif, semaunya sendiri (otonom), tidak mematuhi
aturan-aturan yang berlaku secara alami, bahkan dengan gampang terlepas.
Sel-sel yang terlepas paling sering masuk aliran limfe dalam pembuluh limfe,
juga darah dan kemudian bila dia berhenti pada suatu tempat dia akan berkembang
biak disitu menimbulkan yang disebut dengan anak sebar (metastases).
(Erna. 2008)
D.
Manifestasi
Klinis
Tanda dan gejalanya menurut Nursalam, 2008 yaitu:
1.
Tumor tanpa
disertai gejala dan ditemukan pada pemeriksaan fisik secara teratur. Saat
melakukan palpasi ditemukan massa di daerah abdomen.
2.
Lemah, anemia,
BB menurun, dan demam akibat efek sistemik kanker ginjal.
3.
Classical triad
(gejala lambat).
4.
Hematuria : intermitten atau terus – menerus pada
pemeriksaan mikroskopis dan kasat mata.
5.
Nyeri pinggul : distensi kapsul ginjal dan invasi sekitar
struktur ginjal.
E.
Pemeriksaan
Penunjang
Menurut Nursalam , 2008:
1.
USG membantu
membedakan kista dari tumor ginjal dan digunakan sebagai komplemen untuk IVP
2.
MRI bermanfaat untuk
mendeteksi kategori dan tahap massa ginjal ( bentuk, berat dan kondisi)
Menurut Sjamsuhidajat (2004)
1.
Pemeriksaan
urin biasanya menunjukan proteinuria, hematuria, leukosituria,dan kadang
bakteriuria
2.
Pemeriksaan
darah menunjukan uremi, anemia, karna hematuria kronik
3.
Foto polos
perut dan pielografi biasanya ditemukan pembesaran bayangan ginjal dan
pendesakan sistem pelviokalis sehingga bentuk kaliks menjadi
mendatar dan influndibulum seperti memanjang.
F.
Komplikasi
Metastase yang luas ke berbagai organ (Nursalam, 2008)
G.
Penatalaksanaan
1.
Penatalaksanaan
medis
Tujuan pengobatan tumor Wilms adalah mengusahakan penyembuhan
dengan komplikasi dan morbiditas serendah mungkin. Biasanya dianjurkan
kombinasi pembedahan, radioterapi dan kemoterapi. Dengan terapi kombinasi ini
dapat diharapkan hasil yang memuaskan.Jika secara klinis tumor masih berada
dalam stadium dini dan ginjal disebelah kontra lateral normal, dilakukan
nefrektomi radikal.
Pembedahan, nefroktomi radikal di lakukan bila tumor belum melewati
garis tengah dan belum menginfiltrasi jaringan lain. Pengeluaran kelenjar limfe
retroperitoneall total tidak perlu dilakukan tetapi biopsi kelenjar di daerah
hilus dan paraaorta sebaiknya dilakukan. Pada pembedahan perlu diperhatikan
ginjal kontralateral karena kemungkinan lesi bilateral cukup tinggi. Apabila
ditemukan penjalaran tumor ke vena kava, tumor tersebut harus diangkat.
Radioterapi, tumor Wilms di kenal sebagai tumor yang radiosensitif,
tapi radioterapi dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menimbulkan penyulit
jantung, hati dan paru.Karena itu radioterapi hanya diberikan pada penderita
dengan tumor yang termasuk golongan patologi prognosis buruk atau stadium III
dan IV. Jika ada sisa tumor pasca bedah juga di berikan radioterapi.Radioterapi
dapat juga di gunakan untuk metastase ke paru, otak, hepar serta tulang.
Kemoterapi,
tumor Wilms termasuk tumor yang paling peka terhadap obat kemoterapi. Prinsip
dasar kemoterpai adalah suatu cara penggunaan obat sitostatika yang berkhasiat
sitotoksik tinggi terhadap sel ganas dan mempunyai efek samping yang rendah
terhadap sel yang normal.Terapi sitostatika dapat diberikan pra maupun pasca
bedah didasarkan penelitian sekitar 16-32% dari tumor yang mudah ruptur.
Biasanya, jika diberikan prabedah selama 4 – 8 minggu. Jadi, tujuan pemberian
terapi adalah untuk menurunkan resiko rupture intraoperatif dan mengecilkan
massa tumor sehingga lebih mudah di reseksi total. Ada lima macam obat
sitostatika yang terbukti efektif dalam pengobatan tumor Wilms, yaitu :
Aktinomisin D, Vinkristin, Adriamisin, Cisplatin dan Siklofosfamid. Mekanisme
kerja obat tersebut adalah menghambat sintesa DNA sehingga pembentukan protein
tidak terjadi akibat tidak terbentuknya sintesa RNA di sitoplasma kanker,
sehingga pembelahan sel-sel kanker tidak terjadi. (Gitayulia, 2011)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn “A” DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN
DENGAN DIAGNOSA TUMOR GINJAL DI RUANG PERAWATAN ASSIFAA RUMAH SAKIT IBNU SINA YW UMI MAKASSAR
Tanggal
MRS : 11 Maret 2015
Tanggal
pengkajian : 16 Maret 2015
No Register : 116950
Ruangan : P. Assifaa
Diagnosa : Tumor Ginjal
1.
PENGKAJIAN
A.
Biodata
1)
Identitas klien
Nama : Tn “A”
Umur : 30 Tahun
Jenis
kelamin : Laki-Laki
Alamat :
Status
perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Bugis
Pendidikan : Strata 1
Pekerjaan : PNS
Pendapatan :
2)
Identitas
penanggung jawab
Nama : Ny “c”
Umur : 28 Tahun
Jenis
kelamin : Perempuan
Alamat :
Status
perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Bugis
Pendidikan : Diploma
Pekerjaan : IRT
Pendapatan :
Hub
dengan klien : Istri klien
B.
Riwayat Kesehatan
1)
Riwayat
kesehatan sekarang
a)
Keluhan Utama : Nyeri Pinggang
b)
Riwayat keluhan
utama
P :
Penumpukan massa
Q : Nyeri
seperti ditusuk
R : Daerah
pinggang dan perut
S : Skala
nyeri 6
T :
Dimulai sejak ± 3 minggu sebelum MRS
c)
Kondisi yang
memperberat : Aktivitas fisik
d)
Kondisi yang
meringankan : Tirah baring
e)
Keluhan lain
yang menyertai
·
Klien
mengatakan merasakan nyeri pada daerah perut
·
Klien
mengatakan nafsu makan menurun
·
Klien
mengatakan sulit melakukan pergerakan karena nyeri
·
Klien
mengatakan sering BAK disertai nyeri
2) Riwayat kesehatan masa lalu : Pasien sebelumnya tidak
pernah mempunyai riwayat penyakit apapun dan pasien juga belum pernah dirawat
di Rumah Sakit.
3)
Riwayat Keperawatan
Keluarga : Pasien mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang mempunyai
penyakit seperti pasien
C.
Pemeriksaan Fisik
1)
Keadaan Umum : Baik
2)
Tingkat Kesadaran : Composmentis
3)
Vital Sign :
TD : 110/70 mmHg
RR : 20x /menit
N : 88x /menit
S : 369 C
4)
Kepala
a)
Inspeksi
·
Bentuk mesochepal
·
Rambut kurang bersih, hitam tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut
b) Palpasi
·
Tidak ada nyeri tekan
5) Mata
a) Inspeksi
·
Simetris
·
konjungtiva tidak anemis
·
sklera tidak ikterik
·
tidak mengalami gangguan penglihatan
b) Palpasi
·
Tidak ada nyeri tekan
6) Hidung
a) Inspeksi
·
Simetris
·
tidak ada polip
b) Palpasi
·
Tidak ada nyeri tekan
7) Telinga
a) Inspeksi
·
Simetris
·
Tidak ada serumen
·
Tidak ada gangguan pendengaran
b) Palpasi
·
Tidak ada nyeri tekan
8) Muka
a) Inspeksi
·
Ekspresi wajah tampak meringis kesakitan
·
ekspresi wajah tampak tegang
·
bentuk wajah oval
b) Palpasi
·
Tidak ada nyeri tekan
9) Leher
a) Inspeksi
·
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
·
tidak ada peningkatan JVP
b) Palpasi
·
Tidak ada nyeri tekan
10) Thorax
a) Inspeksi
·
Ictus simetris ka/ki
b) Auskultasi
·
Tidak ada wheezing
·
Tidak ada ronchi
c) Palpasi
·
Ictus cordis teraba pada iga 4 dan 5
d) Perkusi
·
Vocal fremitus ka/ki sama
·
Sonor ka/ki
11) Abdomen
a) Inspeksi
·
Simetris kanan kiri
b) Auskultasi
·
Bunyi peristaltik 14 x/menit
c) Palpasi
·
Teraba adanya massa
pada abdomen kuadran kanan dan kiri bawah
·
Terdapat nyeri tekan
pada area abdomen
12) Ekstremitas
a) Inspeksi
·
Tidak ada oedema
·
terpasang infus RL 120 tetes/menit pada tangan kiri
·
tidak ada lesi
b) palpasi
·
tidak ada nyeri tekan
13) Kulit
a) Inspeksi
·
Turgor kulit baik
·
Warna coklat
D. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan laboratorium
KIBC :
8.000 H/mm3 (3.500-10.000)
PLT :
228.000 H/mm3 (150.000-390.000)
Hb :
11,3 g/dl
2) Pemeriksaan Radiologi
3) Therapy pengobatan
E. Pola Fungsi Gordon
|
NO
|
Pola aktivitas
|
Sebelum sakit
|
Saat sakit
|
|
1
|
Pola
presepsi sensori dan pemeliharaan kesehatan
|
a. Makan makanan yang sehat
b. Klien adalah perokok aktif
|
a. Makan 3x sehari
b. Klien tetap merokok
|
|
2
|
Pola
nutrisi dan cairan tubuh
|
a. Selera makan baik
b. Tidak ada pantangan makanan
c. Mengkonsumsi air putih dan juga kopi
|
a. Nafsu makan menurun
b. Klien diet rendah lemak
c. Mengkonsumsi air putih
|
|
3
|
Pola eliminasi
|
a. BAB 1x sehari
b. BAK 3x sehari
|
a. BAB 1x sehari
b. BAK 6-9x sehari
|
|
4
|
Pola tidur
dan istrahat
|
a. Lamanya tidur 5-6 jam sehari
b. Kualitas tidur baik
|
a. Lamanya tidur 2-3 jam sehari
b. Kualitas tidur kurang baik
|
|
5
|
Pola
aktivitas dan latihan
|
a. Klien bekerja sebagai PNS
b. Melakukan aktivitas secara mandiri
|
a. Klien tidak bekerja
b. Melakukan aktivitas dengan dibantu oleh keluarga
|
|
6
|
Pola
presepsi terhadap diri
|
a. Klien adalah seorang ayah
b. Ideal diri pekerja keras
|
a. Klien adalah pasien
b. Lemah, tidak mampu bekerja
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Pola
hubungan peran
|
a. Interaksi baik
|
a. Interaksi baik
|
|
8
|
Pola
sensori kognitif
|
a.
Baik
|
a. reflek daerah pinggang menurun
|
|
9
|
Pola
stress dan koping
|
a. tidak ada kecemasan
|
a. tidak ada kecemasan
|
|
10
|
Pola keyakinan
dan kepercayaan
|
a. menjalankan ibadah 5 waktu
|
a. tidak dapat menjalankan ibadah 5 waktu
|
F.
Lingkungan
Klien
tinggal bersama dengan seorang istri dan dua orang anak, tempat tinggal klien
merupakan sebuah rumah permanent dengan sumber penerangan dari PLN dan sumber
air dari PDAM.
G.
Psikososial
Klien
mengatakan merasa menyesal dengan penyakit yang dideritanya dan bersedia untuk
bergaya hidup sehat kedepannya
H.
Klasifikasi
Data
1)
Data Subjektif
·
Klien mengatakan
merasakan nyeri pada daerah perut
·
Klien
mengatakan nafsu makan menurun
·
Klien
mengatakan sulit melakukan pergerakan karena nyeri
·
Klien
mengatakan nyeri seperti ditusuk
·
Klien
mengatakan sering BAK disertai nyeri
2)
Data objektif
·
Ekspresi klien
nampak meringis
·
Porsi makan
tidak di habiskan
·
Nyeri tekan
daerah abdomen (+)
·
Klien nampak
melakukan pergerakan dengan dibantu oleh keluarga
·
Klien nampak
tirah baring
·
Teraba adanya
massa pada daerah abdominal kuadran bawah
·
Klien nampak
lemah
I.
Analisa Data
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
Data subjektif :
·
Klien
mengatakan merasakan nyeri pada daerah perut
·
Klien
mengatakan sulit melakukan pergerakan karena nyeri
·
Klien
mengatakan nyeri seperti ditusuk
·
Klien
mengatakan sering BAK disertai nyeri
Data objektif :
·
Ekspresi
klien nampak meringis
·
Teraba adanya
massa di daerah abdominal kuadran bawah
·
Nyeri tekan
abdomen (+)
|
Tumor wilms
↓
Tumor belum menembus kapsul ginjal
↓
Berdiferensiasi
↓
Tumor menembus kapsul ginjal (perineal, hilus,
vena renal
↓
Nyeri
|
Nyeri
|
|
Data subjektif :
·
Klien
mengatakan nafsu makan menurun
Data objektif
·
Porsi makan
tidak di habiskan
·
Klien nampak
lemah
|
Tumor wilms
↓
Tumor belum menembus kapsul ginjal
↓
Berdiferensiasi
↓
Tumor menembus kapsul ginjal (perineal, hilus,
vena renal
↓
Disfungsi ginjal
↓
Gangguan keseimbangan asam dan basa
↓
Asidosis metabolic
↓
Mual dan muntah
↓
Nafsu makan berkurang
|
Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan
tubuh.
|
|
Data subjektif :
·
Klien
mengatakan sulit melakukan pergerakan karena nyeri
Data objektif
·
Klien nampak melakukan
pergerakan dengan dibantu oleh keluarga
·
Klien nampak
tirah baring
·
Klien nampak lemah
|
Tumor wilms
↓
Tumor belum menembus kapsul ginjal
↓
Berdiferensiasi
↓
Tumor menembus kapsul ginjal (perineal, hilus,
vena renal
|
Gangguan mobilitas fisik
|
DAFTAR PUSTAKA
Dorland, 2001, KAMUS KEDOKTERAN, EGC, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta
Purnomo, Basuki. 2003. Dasar-Dasar Urologi Edisi 2. Sagung Seto. Jakarta
Purnomo, Basuki. 2003. Dasar-Dasar Urologi Edisi 2. Sagung Seto. Jakarta
Price, Sylvia A. 2003. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
Volume 2 Edisi 6. EGC. Jakarta
Panduan Penulisan Dx Kep,NOC,NIC –UAP-2011, Page 26
http://en.wikipedia.org/wiki/Wilms'_tumor
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/wilmstumor.html
http://www.meb.uni-bonn.de/cancer.gov/CDR0000062937.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Renal_cell_carcinoma
http://www.emedicinehealth.com/renal_cell_cancer/article_em.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Hamartoma
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/wilmstumor.html
http://www.meb.uni-bonn.de/cancer.gov/CDR0000062937.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Renal_cell_carcinoma
http://www.emedicinehealth.com/renal_cell_cancer/article_em.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Hamartoma
Komentar
Posting Komentar