LP & ASKEP TUMOR GINJAL



KONSEP DASAR MEDIS
A.    Pengertian
Neoplasma secara harafiah berarti “pertumbuhan baru”, yang terdiri dari kata tumor/onkos dan logos/ilmu, yang diartikan sebagai massa abnormal dari sel-sel yang mengalami proliferasi. Sel-sel neoplasma berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, selama mengalami perubahan neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu (otonom: tumbuh dengan kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tidak tergantung pada pengawasan homeostasis sebagian besar sel tubuh lain).
Tumor seringkali digunakan sinonim dengan neoplasma. Tumor diartikan sebagai pembengkakan sederhana atau gumpalan. Istilah “Tumor sejati” seringkali dipakai untuk membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya.
Sel tumor ialah sel tubuh yang mengalami transmformasi dan tumbuh secara autosom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya (Sjamsuhidajat R, 2004). Tumor adalah proliferasi sel yang abnormal tanpa terkendali dan bisa merupakan kelainan yang benigna atau maligna. (Brooker C., 2001)
Tumor ginjal terbagi menjadi 2, yaitu tumor ginjal padat jinak dan tumor ginjal ganas. Tumor ginjal padat jinak ialah adenoma, onkositoma, leiomioma, lipoma, hemangioma, hamartoma. Sedangkan Tumor ginjal ganas biasanya berupa tumor padat yang berasal dari urotelium yaitu karsinoma , sel transional atau yang berasal dari sel epitel ginjal (Sjamsuhidajat R, 2004).

B.     Etiologi
Kategori agen atau faktor-faktor tertentu telah memberikan implikasi dalam proses karsinogenik, yaitu:
1.      Virus, Misalnya: Herpes simplex virus (HPV) tipe 16,18 menyebabkan Ca servix uteri
2.      Agen fisik, Misalnya : Pajanan sinar matahari, Radiasi, Iritasi kronis/inflamasi dan Penggunaan tembakau Contoh : Ca epidermis, insidensinya meningkat pada individu yang mempunyai resiko terkena pajanan sinar Ultraviolet yang berlebihan (misalnya: gaya berpakaian, penggunaan tabir surya, pekerjaan, kebiasaan rekreasi, variabel lingkungan seperti kelembaban dan ketinggian), Leukimia, mieloma multipel, Ca paru, Ca mammae, osteosarkoma dan Ca tiroid dapat dipicu oleh adanya terapi radiasi dalam pengobatan penyakit atau adanya pajanan terhadap bahan radioaktif pada tempat-tempat senjata nuklir, Ca Labia dapat terjadi oleh karena mutasi sel sekunder terhadap iritasi atau inflamasi kronik
3.      Agen kimia, Misalnya : Tembakau merupakan karsinogen kimia paten yang menyebabkan sedikitnya 35% kematian akibat kanker pada paru-paru, kepala, leher, esofagus, pankreas, serviks dan kandung kemih. Tembakau bekerja sinergis dengan substansi lain seperti alkohol, asbestos, uranium dan virus. Kondisi ini seringkali menyebabkan insidensi Ca cavum oris meningkat. Agen kimia lain seperti zat warna amino aromatik dan anillin, arsenik, jelaga, tar, asbestos, benzen, pinang dan kapur sirih, kadmium, senyawa kromium, nikel, seng, debu kayu, senyawa berilium dan polivinil klorida. Agen-agen kimia ini dalam dosis yang berlebihan membahayakan tubuh karena akan merusak struktur DNA terutama pada bagian-bagian tubuh yang jauh dari pajanan zat kimia seperti hepar, paru, dan ginjal karena organ-organ ini berperan untuk melakukan detoksifikasi zat-zat kimiawi.
4.      Faktor genetik dan keturunan: Kerusakan DNA pada sel yang pola kromosomnya abnormal dapat membentuk sel-sel mutan. Pola kromosom yang abnormal dan kanker berhubungan dengan kromosom ekstra, jumlah kromosom yang terlalu sedikit dan adanya translokasi kromosom. Contoh: limfoma burkitt, leukimia mielogenus, meningioma, retinoblastoma, tumor wilm.
5.      Faktor makanan: 40-60% kejadian kanker berhubungan dengan lingkungan. Substansi makanan dapat proaktif atau protektif, dan karsinogenik atau ko-karsinogenik. Resiko kanker meningkat jika terdapat ingesti karsinogenik atau kokarsinogenik dalam jangka waktu yang lama dan terus-menerus, juga dapat terjadi jika makanan yang dikonsumsi tidak mengandung substansi proaktif, misalnya lemak, alkohol, asinan terutama daging, nitrat/nitrit dan makanan yang berkalori tinggi. Contoh makanan yang mengurangi resiko kanker adalah sayuran kruriferus (kol, brokoli, kembang kol dan toge), makanan tinggi serat, karotenoid (wortel, tomat, bayam, aprikot, sayur hijau), vitamin E, vitamin C, dan selenium.
6.      Agen humoral, Misalnya: Endogenus atau pembentukan hormon tubuh sendiri dan Eksogenus atau adanya pemberian hormon tambahn masuk kedalam tubuh. Gangguan keseimbangan ini mempercepat pertumbuhan tumor, misalnya: Ca mammae, Ca prostat dan Ca uteri berkaitan dengan kadar hormon endogen untuk pertumbuhannya. Ca hepatoseluler, Ca vaginal dan Ca mammae berkaitan dengan penggunaan kontrasepsi hormonal dan terapi penggantian estrogen jangka panjang
Sedangkan menurut Muttaqin dan Sari (2011) penyebab pasti masih belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor lingkungan dan genetik yg menjadi predisposisi terbentuknya karsinoma sel ginjal, meliputi hal-hal sebagai berikut.
1.      Merokok
2.      Obesitas, menjadi faktor resiko, terutama pada wanita, berat badan yang meningkat memiliki hubungan liner  dengan meningkat kan risiko
3.      Hipertensi, dikaitkan dengan peningkatan insiden carcinoma sel ginjal
4.      Penyakit kritis ginjal pada pasien yang menjalani dialisis ginjal jangka panjang. Hal ini predisposisi untuk kanker sel ginjal
5.      Transplantasi ginjal, predisposisi pada penerima transplantasi ginjal
6.      Penyakit sindrom von Hippel-Lindau (VHL) merupakan penyakit bawaan terkait dengan karsinoma ginjal




C.    Patofisiologi
Tumor ini berasal dari sel tubulus ginjal yang dapat dimulai dari korteks maupun daerah medulla. Tumor dari daerah korteks cenderung meluas kedaerah sekitar ginjal. Tumor ini mempunyai pseudo kapsul yang terdiri dari jaringan parenkim yang tertekan serta jaringan fibrous dan sel-sel inflamasi. Infiltrasi tumor ke daerah luar menyebabkan tonjolan yang dapat digunakan sebagai tanda diagnostik pada pemeriksaan USG atau CT scan. Ukuran sangat bervariasi mulai dari yang berukuran kecil sampai ukuran 8-9 cm. Secara makroskopik akan terlihat pewarnaan kekuningan atau orange oleh karena mengandung banyak lemak. Permukaan tumor yang lebih kecil tampak homogen sedang yang besar biasanya disertai kista sekunder di dalamnya dengan daerah perdarahan dan daerah nekrosis serta kadang ditemukan kalsifikasi didaerah perifer. (Afif, 2011)
Salah satu penyebab utama tumor ginjal adalah merokok, karena didalam rokok terdapat zat karsinogen. Karsinogen itu akan menyebabkan kerusakan pada DNA atau mutasi DNA yang ada pada inti sel. Unit fungsional DNA disebut gen yang terkenal sebagai pembawa sifat keturunan. Sebenarnya fungsi DNA ini adalah pengatur semua kehidupan sel. DNA yang menentukan struktur dan fungsi sel juga pembelahannya. Kerusakan-kerusakan pada DNA akan diperbaiki oleh yang namanya DNA repair mechanism, bila repair ini gagal   maka sel akan mengalami Apoptosis. Apoptosis ini adalah kematian sel dengan cara bunuh diri akibat terpapar asap rokok. (Erna. 2008)
Mutasi ini dapat mengaktivasi gen-gen yang diberi nama oncogenes (dinamakan demikian karena aktivasi berlebihan dari gen ini menyebabkan sel akan terus membelah dan menjadi kanker) seperti gen RAS atau menginkativasi tumoursuppressor genes (gen yang menekan timbulnya tumor jadi kerjanya berlawanan dengan oncogene). Banyak bukti telah didapatkan bahwa carcinogen dapat secara langsung bereaksi dan menyebabkan perubahan pada RAS. (Erna. 2008)
Karena oncogen seperti RAS teraktivasi akhirnya sel-sel jadi membelah tak terkendali dan membentuk sel-sel dengan struktur yang lebih primitif, semaunya sendiri (otonom), tidak mematuhi aturan-aturan yang berlaku secara alami, bahkan dengan gampang terlepas. Sel-sel yang terlepas paling sering masuk aliran limfe dalam pembuluh limfe, juga darah dan kemudian bila dia berhenti pada suatu tempat dia akan berkembang biak disitu menimbulkan yang disebut dengan anak sebar (metastases). (Erna. 2008)

D.    Manifestasi Klinis
Tanda dan gejalanya menurut Nursalam, 2008 yaitu:
1.      Tumor tanpa disertai gejala dan ditemukan pada pemeriksaan fisik secara teratur. Saat melakukan palpasi ditemukan massa di daerah abdomen.
2.      Lemah, anemia, BB menurun, dan demam akibat efek sistemik kanker ginjal.
3.      Classical triad (gejala lambat).
4.      Hematuria   : intermitten atau terus – menerus pada pemeriksaan   mikroskopis dan kasat mata.
5.      Nyeri pinggul  : distensi kapsul ginjal dan invasi sekitar struktur ginjal.

E.     Pemeriksaan Penunjang
Menurut Nursalam , 2008:
1.      USG membantu membedakan kista dari tumor ginjal dan digunakan sebagai komplemen untuk IVP
2.      MRI bermanfaat untuk mendeteksi kategori dan tahap massa ginjal ( bentuk, berat dan  kondisi)
Menurut Sjamsuhidajat (2004)
1.      Pemeriksaan urin biasanya menunjukan proteinuria, hematuria, leukosituria,dan kadang bakteriuria
2.      Pemeriksaan darah menunjukan uremi, anemia, karna hematuria kronik
3.      Foto polos perut dan pielografi biasanya ditemukan pembesaran bayangan ginjal dan pendesakan sistem pelviokalis sehingga bentuk kaliks menjadi mendatar dan influndibulum seperti memanjang.

F.     Komplikasi
Metastase yang luas ke berbagai organ (Nursalam, 2008)

G.    Penatalaksanaan
1.      Penatalaksanaan medis
Tujuan pengobatan tumor Wilms adalah mengusahakan penyembuhan dengan komplikasi dan morbiditas serendah mungkin. Biasanya dianjurkan kombinasi pembedahan, radioterapi dan kemoterapi. Dengan terapi kombinasi ini dapat diharapkan hasil yang memuaskan.Jika secara klinis tumor masih berada dalam stadium dini dan ginjal disebelah kontra lateral normal, dilakukan nefrektomi radikal.
Pembedahan, nefroktomi radikal di lakukan bila tumor belum melewati garis tengah dan belum menginfiltrasi jaringan lain. Pengeluaran kelenjar limfe retroperitoneall total tidak perlu dilakukan tetapi biopsi kelenjar di daerah hilus dan paraaorta sebaiknya dilakukan. Pada pembedahan perlu diperhatikan ginjal kontralateral karena kemungkinan lesi bilateral cukup tinggi. Apabila ditemukan penjalaran tumor ke vena kava, tumor tersebut harus diangkat.
Radioterapi, tumor Wilms di kenal sebagai tumor yang radiosensitif, tapi radioterapi dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menimbulkan penyulit jantung, hati dan paru.Karena itu radioterapi hanya diberikan pada penderita dengan tumor yang termasuk golongan patologi prognosis buruk atau stadium III dan IV. Jika ada sisa tumor pasca bedah juga di berikan radioterapi.Radioterapi dapat juga di gunakan untuk metastase ke paru, otak, hepar serta tulang.
Kemoterapi, tumor Wilms termasuk tumor yang paling peka terhadap obat kemoterapi. Prinsip dasar kemoterpai adalah suatu cara penggunaan obat sitostatika yang berkhasiat sitotoksik tinggi terhadap sel ganas dan mempunyai efek samping yang rendah terhadap sel yang normal.Terapi sitostatika dapat diberikan pra maupun pasca bedah didasarkan penelitian sekitar 16-32% dari tumor yang mudah ruptur. Biasanya, jika diberikan prabedah selama 4 – 8 minggu. Jadi, tujuan pemberian terapi adalah untuk menurunkan resiko rupture intraoperatif dan mengecilkan massa tumor sehingga lebih mudah di reseksi total. Ada lima macam obat sitostatika yang terbukti efektif dalam pengobatan tumor Wilms, yaitu : Aktinomisin D, Vinkristin, Adriamisin, Cisplatin dan Siklofosfamid. Mekanisme kerja obat tersebut adalah menghambat sintesa DNA sehingga pembentukan protein tidak terjadi akibat tidak terbentuknya sintesa RNA di sitoplasma kanker, sehingga pembelahan sel-sel kanker tidak terjadi. (Gitayulia, 2011)

















ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn “A” DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN DENGAN DIAGNOSA TUMOR GINJAL DI RUANG PERAWATAN ASSIFAA RUMAH SAKIT  IBNU SINA YW UMI    MAKASSAR

                                                                        Tanggal MRS              : 11 Maret 2015
Tanggal pengkajian    :  16 Maret 2015
 No Register                : 116950
 Ruangan                        : P. Assifaa
 Diagnosa                       : Tumor Ginjal

1.      PENGKAJIAN
A.    Biodata
1)       Identitas klien
Nama                       : Tn “A”
Umur                        : 30 Tahun
Jenis kelamin            : Laki-Laki
Alamat                     :
Status perkawinan   : Menikah
Agama                     : Islam
Suku/Bangsa            : Bugis
Pendidikan               : Strata 1
Pekerjaan                 : PNS
Pendapatan              :

2)      Identitas penanggung jawab
Nama                       : Ny “c”
Umur                        : 28 Tahun
Jenis kelamin            : Perempuan
Alamat                     :
Status perkawinan   : Menikah
Agama                     : Islam
Suku/Bangsa            : Bugis
Pendidikan               : Diploma
Pekerjaan                 : IRT
Pendapatan              :
Hub dengan klien    : Istri klien

B.     Riwayat Kesehatan
1)      Riwayat kesehatan sekarang
a)      Keluhan Utama          : Nyeri Pinggang
b)      Riwayat keluhan utama
P                      : Penumpukan massa
Q                     : Nyeri seperti ditusuk
R                     : Daerah pinggang dan perut
S                      : Skala nyeri 6
T                      : Dimulai sejak ± 3 minggu sebelum MRS
c)      Kondisi yang memperberat : Aktivitas fisik
d)     Kondisi yang meringankan : Tirah baring
e)      Keluhan lain yang menyertai
·         Klien mengatakan merasakan nyeri pada daerah perut
·         Klien mengatakan nafsu makan menurun
·         Klien mengatakan sulit melakukan pergerakan karena nyeri
·         Klien mengatakan sering BAK disertai nyeri

2)      Riwayat kesehatan masa lalu : Pasien sebelumnya tidak pernah mempunyai riwayat penyakit apapun dan pasien juga belum pernah dirawat di Rumah Sakit.
3)      Riwayat Keperawatan Keluarga : Pasien mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang mempunyai penyakit seperti pasien

C.     Pemeriksaan Fisik
1)      Keadaan Umum       : Baik
2)      Tingkat Kesadaran   : Composmentis
3)      Vital Sign                 :          
TD    :           110/70 mmHg            
RR   :           20x /menit
N      :           88x /menit      
S       :           369 C
4)      Kepala
a)      Inspeksi
·         Bentuk mesochepal
·         Rambut kurang bersih, hitam tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut
b)      Palpasi
·         Tidak ada nyeri tekan
5)      Mata
a)      Inspeksi
·         Simetris
·         konjungtiva tidak anemis
·         sklera tidak ikterik
·         tidak mengalami gangguan penglihatan
b)      Palpasi
·         Tidak ada nyeri tekan

6)      Hidung
a)      Inspeksi
·         Simetris
·         tidak ada polip
b)      Palpasi
·         Tidak ada nyeri tekan

7)      Telinga
a)      Inspeksi
·         Simetris
·         Tidak ada serumen
·         Tidak ada gangguan pendengaran
b)      Palpasi
·         Tidak ada nyeri tekan

8)      Muka
a)      Inspeksi
·         Ekspresi wajah tampak meringis kesakitan
·         ekspresi wajah tampak tegang
·         bentuk wajah oval
b)      Palpasi
·         Tidak ada nyeri tekan

9)      Leher
a)      Inspeksi
·         Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
·         tidak ada peningkatan JVP
b)      Palpasi
·         Tidak ada nyeri tekan

10)  Thorax         
a)      Inspeksi
·         Ictus simetris ka/ki
b)      Auskultasi
·         Tidak ada wheezing
·         Tidak ada ronchi
c)      Palpasi
·         Ictus cordis teraba pada iga 4 dan 5
d)     Perkusi
·         Vocal fremitus ka/ki sama
·         Sonor ka/ki
11)  Abdomen
a)      Inspeksi
·         Simetris kanan kiri
b)      Auskultasi
·         Bunyi peristaltik 14 x/menit
c)      Palpasi
·         Teraba adanya massa pada abdomen kuadran kanan dan kiri bawah
·         Terdapat nyeri tekan pada area abdomen
12)  Ekstremitas             
a)      Inspeksi
·         Tidak ada oedema
·         terpasang infus RL 120 tetes/menit pada tangan kiri
·         tidak ada lesi
b)      palpasi
·         tidak ada nyeri tekan
13)  Kulit            
a)      Inspeksi
·         Turgor kulit baik
·         Warna coklat

D.    Pemeriksaan Diagnostik  
1)      Pemeriksaan laboratorium
KIBC           :           8.000 H/mm3 (3.500-10.000)
PLT              :           228.000 H/mm3          (150.000-390.000)
Hb                :           11,3 g/dl
2)      Pemeriksaan Radiologi
3)      Therapy pengobatan
E.     Pola Fungsi Gordon
NO
Pola aktivitas
Sebelum sakit
Saat sakit
1
Pola presepsi sensori dan pemeliharaan kesehatan
a.       Makan makanan yang sehat
b.      Klien adalah perokok aktif
a.       Makan 3x sehari
b.      Klien tetap merokok
2
Pola nutrisi dan cairan tubuh
a.       Selera makan baik
b.      Tidak ada pantangan makanan
c.       Mengkonsumsi air putih dan juga kopi
a.       Nafsu makan menurun
b.      Klien diet rendah lemak
c.       Mengkonsumsi air putih
3
Pola eliminasi
a.       BAB 1x sehari
b.      BAK 3x sehari
a.       BAB 1x sehari
b.      BAK 6-9x sehari
4
Pola tidur dan istrahat
a.       Lamanya tidur 5-6 jam sehari
b.      Kualitas tidur baik
a.       Lamanya tidur 2-3 jam sehari
b.      Kualitas tidur kurang baik
5
Pola aktivitas dan latihan
a.       Klien bekerja sebagai PNS
b.      Melakukan aktivitas secara mandiri
a.       Klien tidak bekerja
b.      Melakukan aktivitas dengan dibantu oleh keluarga
6
Pola presepsi terhadap diri
a.       Klien adalah seorang ayah
b.      Ideal diri pekerja keras
a.       Klien adalah pasien
b.      Lemah, tidak mampu bekerja




7
Pola hubungan peran
a.       Interaksi baik
a.       Interaksi baik
8
Pola sensori kognitif
a.       Baik
a.       reflek daerah pinggang menurun
9
Pola stress dan koping
a.       tidak ada kecemasan
a.       tidak ada kecemasan
10
Pola keyakinan dan kepercayaan
a.       menjalankan ibadah 5 waktu
a.       tidak dapat menjalankan ibadah 5 waktu


F.      Lingkungan
Klien tinggal bersama dengan seorang istri dan dua orang anak, tempat tinggal klien merupakan sebuah rumah permanent dengan sumber penerangan dari PLN dan sumber air dari PDAM.

G.    Psikososial
Klien mengatakan merasa menyesal dengan penyakit yang dideritanya dan bersedia untuk bergaya hidup sehat kedepannya

H.    Klasifikasi Data
1)      Data Subjektif
·         Klien mengatakan merasakan nyeri pada daerah perut
·         Klien mengatakan nafsu makan menurun
·         Klien mengatakan sulit melakukan pergerakan karena nyeri
·         Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk
·         Klien mengatakan sering BAK disertai nyeri

2)      Data objektif
·         Ekspresi klien nampak meringis
·         Porsi makan tidak di habiskan
·         Nyeri tekan daerah abdomen (+)
·         Klien nampak melakukan pergerakan dengan dibantu oleh keluarga
·         Klien nampak tirah baring
·         Teraba adanya massa pada daerah abdominal kuadran bawah
·         Klien nampak lemah

I.       Analisa Data
Data
Etiologi
Masalah
Data subjektif :
·         Klien mengatakan merasakan nyeri pada daerah perut
·         Klien mengatakan sulit melakukan pergerakan karena nyeri
·         Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk
·         Klien mengatakan sering BAK disertai nyeri
 Data objektif :
·         Ekspresi klien nampak meringis
·         Teraba adanya massa di daerah abdominal kuadran bawah
·         Nyeri tekan abdomen (+)
Tumor wilms
Tumor belum menembus kapsul ginjal
Berdiferensiasi
Tumor menembus kapsul ginjal (perineal, hilus, vena renal
Nyeri
Nyeri
Data subjektif :
·         Klien mengatakan nafsu makan menurun
Data objektif
·         Porsi makan tidak di habiskan
·         Klien nampak lemah

 
Tumor wilms
Tumor belum menembus kapsul ginjal
Berdiferensiasi
Tumor menembus kapsul ginjal (perineal, hilus, vena renal
Disfungsi ginjal
Gangguan keseimbangan asam dan basa
Asidosis metabolic
Mual dan muntah
Nafsu makan berkurang
Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh.
Data subjektif :
·         Klien mengatakan sulit melakukan pergerakan karena nyeri
Data objektif
·         Klien nampak melakukan pergerakan dengan dibantu oleh keluarga
·         Klien nampak tirah baring
·         Klien nampak lemah

Tumor wilms
Tumor belum menembus kapsul ginjal
Berdiferensiasi
Tumor menembus kapsul ginjal (perineal, hilus, vena renal
Gangguan mobilitas fisik

















               









DAFTAR PUSTAKA
Dorland, 2001, KAMUS KEDOKTERAN, EGC, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta
Purnomo, Basuki. 2003. Dasar-Dasar Urologi Edisi 2. Sagung Seto. Jakarta
Price, Sylvia A. 2003. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 2 Edisi 6. EGC. Jakarta
Panduan Penulisan Dx Kep,NOC,NIC –UAP-2011, Page 26
http://en.wikipedia.org/wiki/Wilms'_tumor
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/wilmstumor.html
http://www.meb.uni-bonn.de/cancer.gov/CDR0000062937.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Renal_cell_carcinoma
http://www.emedicinehealth.com/renal_cell_cancer/article_em.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Hamartoma


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEPEMIMPINAN POPULISTIS

teori pendekatan sosial dalam bidang kesehatan

kampus menurutku??